Booking.com
Wisata BaliWisatabalionline.com | Informasi Terbaru Wisata Bali

Pecalang Dan Takmir Amankan Paskah

Petugas keamanan desa adat atau “pecalang” dan pengurus takmir masjid membantu mengamankan rangkaian Perayaan Paskah di Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa di kawasan Puja Mandala, Nusa Dua. “Seperti biasanya, kami selalu dibantu para pecalang dan pengurus masjid saat Perayaan Paskah,” kata Sekretaris Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Alexander Seni Kelen, di Denpasar, Selasa. Empat pecalang dari Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, mengamankan jalannya misa perayaan Paskah dari luar areal gereja mulai Kamis (5/4) hingga Minggu (8/4).

Para pecalang itu dibantu pengurus Masjid Ibnu Batutah yang bersebelahan dengan gereja Katolik tersebut. “Kalau Jumatan, tenaga sekuriti kami juga membantu mengatur kendaraan para jamaah di masjid,” kata Alex. Di Kawasan Puja Mandala, pemerintah membangun kompleks rumah ibadah lima agama, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha. Kawasan itu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik mancanegara maupun domestik. Alex menambahkan bahwa rangkaian Perayaan Misa dimulai pada ritual Minggu (1/4) Palma. Dilanjutkan dengan misa Kamis (5/4) Putih dan Jumat (6/4) Agung.

Pada Jumat Agung, sekitar 200 jemaat akan mengikuti upacara Jalan Salib di dalam gereja pada pukul 09.00 Wita dilanjutkan penghormatan salib pada pukul 15.00 Wita. Pada Sabtu (7/4) hingga Minggu (8/4) digelar misa, masing-masing sebanyak dua kali dipimpin oleh Romo Evensius Dewantoro, Pr dari Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa dan Romo Benediktus Denny Mari, Pr, Rektor Sekolah Seminari Menengah Roh Kudus, Tuka, Dalung, Kabupaten Badung.

Sejak ditetapkan sebagai paroki, jumlah jemaat di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa mengalami penambahan sekitar 500 jiwa. Sebelumnya, umat Katolik di kawasan Kuta dan Nusa Dua, menjalani misa di Gereja Paroki Santo Fransiskus Xaverius di Jalan Kartika Plaza, Kuta. Misa di gereja itu menggunakan dua bahasa pengantar, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. “Kebetulan di sini ada sekitar 100 jemaat warga negara asing dari Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. Selain kalangan ekspatriat, yang mengikuti misa berbahasa Inggris adalah kalangan wisatawan mancanegara,” kata Alex.